Civil Engineering Blog

by Brian Rizka Hernawan

Waspadai Treadmil Desember 19, 2009

Filed under: Info Kesehatan — Brian Rizka Hernawan @ 8:48 pm

Treadmill dikerjakan untuk mendiagnosis adanya kelainan jantung, selain melihat perkembangan kondisi jantung setelah kedapatan pernah ada riwayat gangguan. Apa pun tujuan pemeriksaan treadmill, tentu perlu diwaspadai. Tadinya untuk membantu menyelesaikan masalah jantung, malah bisa menjadi korban akiabt melakukannya tanpa cukup cermat mempertimbangkannya terlebih dulu. Di bawah ini contoh kasusnya.

Pak Sut hampir 70 tahun umurnya. Suatu pagi dia melakukan treadmill di rumahnya. Belum sampai beberapa menit, terasa tidak enak di badannya, agak sesak. Perasaan tak enak itu terbawa sampai siang hari.

Dua hari kemudian ia ke rumah sakit, dan dokternya melakukan pemeriksaan treadmill. Belum sampai satu menit, Pak Sut tumbang, masih di atas treadmill, dan nyawanya gagal tertolong. Apa yang terjadi? Jantung pak Sut memang sudah bermasalah jauh hari sebelum kejadian itu, namun ia tak pernah memeriksanya secara teliti.

Pak Sut merasa tidak pernah mengeluh apa pun sehubungan dengan jantungnya, sehingga tidak berpikir jantungnya sudah bermasalah. Dan itu terbukti, pemeriksaan treadmill memicu serangan jantung koroner yang tak terelakkan. Pak Sut sebenarnya beresiko terserang jantung karena lemak darahnya lebih tinggi dari normal.

Belum tentu spesifik
Betul, serangan jantung yang spesifik memang bisa diperikan sebagai nyeri di dada. Rasa nyeri mulai dari seperti tertindih beban berat sampai nyeri tidak enak di dada. Nyerinya menjalar dari dada ke lengan, pundak, leher, dan punggung.

Nyeri dada disertai keringat dingin, mual, sampai muntah, dan tentu sesak napas juga. Namun, tidak setiap nyeri atau rasa tidak enak di dada, jantung penyebabnya. Sayangnya, tidak semua serangan jantung koroner muncul sejenis itu. Adakalanya tidak muncul seperti itu. Mungkin hanya nyeri selintas, dan hanya sesak napas saja.

Namun, melihat sumbatan koroner jantung Pak Sut di atas sudah nyaris total, mestinya serangan koroner sudah pernah terjadi. Serangan koroner mungkin sudah sering terjadi sebelumnya, meski tidak ia sadari.

Buktinya, melakukan kegiatan treadmill, pak Sut sudah tak sanggup. Sebetulnya itu sudah menjadi petunjuk kalau jantungnya memang sudah bermasalah. Mestinya, kalau Pak Sut menceritakan bahwa dua hari sebelumnya ada riwayat tidak enak badan sehabis treadmil di rumah, dokter tidak akan melakukan pemeriksaan treadmill di rumah sakit.

Pemeriksaan treadmill sendiri tidak mengendus kelainan jantung koroner yang belum terlampau luas dan besar. Sumbatan yang masih kecil tidak terdeteksi. Diperlukan pemeriksaan yang lebih detail untuk melihat adanya kelainan koroner di jantung. Dengan MS-CT-Scan (multislices computerizes tomography-scan), sudah bisa jelas melihat kelainan koroner sekecil apa pun.

Narasumber: dr.Handrawan Nadesul, dokter umum, pengasuh berbagai rubrik kesehatan.

 

Membuat Teras Mungil Jadi Unik Desember 19, 2009

Filed under: Struktur — Brian Rizka Hernawan @ 5:18 pm

Jaman dahulu, teras menjadi tempat alternatif bagi keluarga untuk bersantai di sore hari sambil menghirup secangkir teh dan menikmati kue-kue. Terkadang, teras juga bisa menjadi perpanjangan ruang tamu ketika kerabat yang bertandang jumlahnya melebihi kapasitas ruang tersebut. Namun kini, rumah di komplek-komplek perumahan cenderung memberikan area teras yang sangat mungil. Fungsinya pun menjadi hanya sebatas entrance bagi rumah.

Ukuran yang mungil, kadang menjadikan pemilik rumah ogah mendandani teras. Untuk apa? Toh hanya entrance yang sekedar dilewati, tanpa berlama-lama dipandangi atau dinikmati. Padahal

pemikiran seperti ini tak sepenuhnya benar. Sebagai entrance, penting juga bagi teras yang mungil ini untuk berdandan menyambut mereka yang akan memasuki rumah. Selain itu, desain yang apik akan menambah menarik penampilan fasad rumah.

Tak Perlu Banyak Pernik

Dahulu, orang biasa meletakkan seperangkat kursi plus meja di teras. Namun dengan ukuran teras yang umum digunakan di komplek-komplek perumahan saat ini, hal tersebut rasanya sulit untuk diterapkan.

Ukuran teras yang mungil sebaiknya disiasati dengan menaruh sesedikit mungkin perabot atau pernak-pernik di area ini. Terlebih lagi, sebagai entrance, teras sebaiknya tak terlalu disesaki oleh barang yang akan menyulitkan orang yang hendak memasuki rumah. Letakkan barang yang memang diperlukan benar di bagian ini, seperti keset atau rak sepatu. Sesuaikan ukurannya dengan besar teras, agar terlihat serasi.

Batu Koral Memberi Tekstur

Agar tak monoton, terapkan permainan tekstur. Paduan tekstur yang berbeda akan memperkaya penampilan teras. Pada teras ini, permainan tekstur didapat dengan memadukan ubin keramik yang licin dengan batu koral yang kasar. Batu koral dipilih yang diameternya cukup besar agar seimbang dengan lebar ubin.

Perpaduan ini, selain memberikan tatanan tekstur yang berbeda, juga memberikan tatanan warna yang berbeda pula. Namun demikian, perbedaannya tak terlalu besar karena masih ada dalam satu gradasi warna, yakni abu-abu. Abu-abunya cat dinding, berpadu serasi dengan warna keramik dan batu koral.

Stepping Stone Unik

Sebagai peralihan dari carport menuju ke teras, digunakan stepping stone (batu pijakan). Bentuk stepping stone yang sederhana—persegi tanpa banyak ornamen—selaras dengan desain teras yang minimalis.

Stepping stone ini juga cukup mudah pembuatannya. Bahan-bahannya hanyalah pasangan bata dan campuran semen-pasir. Alur-alur pada permukaan stepping stone dibuat dengan menggunakan bantuan sapu lidi, saat lapisan semen masih basah.

Tanaman Air Memperlembut Penampilan

Agar penampilan teras tak melulu didominasi oleh kakunya batu, keramik, dan semen, perlu ditambahkan unsur tanaman. Di sini dipilih tanaman air jenis Juncus Sp. Penampilannya yang sederhana, selaras dengan desain teras yang cenderung minimalis.

Agar penampilan teras tak menjadi “berantakan” oleh ember atau pot yang berjajar, galilah lubang dengan kedalaman yang cukup dan benamkan ember atau pot tempat tumbuhnya si Juncus. Tata batu koral di sekeliling bibir ember atau pot untuk menyembunyikannya.

Nah, siapa bilang ukuran yang mungil membuat teras tak bisa tampil apik? Teras yang satu ini adalah buktinya. Bahan-bahan yang digunakan terbilang biasa dan tak mahal, namun hasilnya mampu memikat mata.

(Sumber by google)

 

Perkuat Bangunan Dengan Balok Diagonal Desember 19, 2009

Filed under: Gempa,Struktur — Brian Rizka Hernawan @ 4:48 pm

Memperkuat bangunan agar tahan gempa selain memperhatikan detil dan material struktur utamanya (pondasi, kolom, dan balok) juga bisa dilakukan dengan memasang balok diagonal yang berfungsi sebagai pengaku.

Pemasangan balok diagonal merupakan hasil modifikasi perkuatan yang disesuaikan antara struktur utama bangunan dengan denah rumah yang ada. Pendapat dan temuan modifikasi ini dikemukakan oleh Ir. Ign. Benny Puspantoro, MSc IP-Md, (dosen S1 dan S2 Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta) yang ditemui Tabloid RUMAH ketika diminta pendapatnya tentang bagaimana membuat struktur rumah tahan gempa beberapa waktu yang lalu.

Peletakkan balok diagonal bisa sejajar dengan slof (balok bawah) maupun sejajar dengan balok atas. Namun, untuk mempermudah pemasangan dan menghindari struktur yang rumit, lebih baik balok diagonal diletakkan sejajar dengan slof. Balok ini akan membentang dari salah satu sudut slof sampai sudut slof lain yang merupakan titik pertemuan semua balok diagonal. Titik temu ini bisa lebih dari satu, tergantung dari denah rumahnya.

Untuk memudahkan pemilihan sudut mana yang akan dijadikan titik pertemuan, terlebih dulu tentukan letak pusat masa bangunan. Titik pusat masa bangunan inilah yang dapat menjadi salah satu titik pertemuan balok diagonal. Dari titik ini kemudian tarik garis ke arah sudut bangunan terluar yang merupakan titik sudut pertemuan balok slof. Garis inilah yang merupakan garis letak balok diagonal.

Dengan adanya balok diagonal, masing-masing elemen struktur (balok, pondasi, dan kolom) akan bekerja menjadi satu kesatuan sebagai stuktur bangunan yang kokoh dan tidak bekerja secara terpisah untuk menahan gaya gempa. Masing-masing elemen akan “bergerak” bersama-sama bila ada goyangan gempa.

Prinsip Segitiga

Jika diperhatikan, dengan adanya pengaku berupa balok diagonal maka akan terbentuk struktur segitiga, dengan sisi mendatar dan tegak berupa balok slof dan sisi miringnya berupa balok diagonal. Dalam ilmu struktur, bentuk struktur rangka segitiga merupakan bentuk struktur yang mempunyai kekuatan statis lebih besar dibandingkan struktur persegi empat.

Bentuk struktur persegi empat mempunyai kekakuan yang kurang sehingga bila ada gaya vertikal (gaya gempa) yang menimpanya, struktur itu mudah ”bergerak” dan akibatnya bangunan akan rubuh. Ini mengingat pada titik sudut pertemuan atau sudut rawan terjadi momen puntir dan tidak ada yang mengaku pergerakan itu. Sistem struktur segitiga akan memberikan keseimbangan gaya pada titik pertemuan tersebut dan juga dapat saling menguatkan (lihat gambar: Contoh perlakuan struktur pada dinding di antara dua kolom).

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.