Civil Engineering Blog

by Brian Rizka Hernawan

Intensitas Gempa Desember 13, 2009

Filed under: Gempa — Brian Rizka Hernawan @ 12:36 pm

Intensitas Gempa secara umum di definisikan sebagai klasifikasi kekuatan goncangan yang di dasarkan atas efek yang terekam di lapangan. Klasifikasi tersebut dinyatakan dalam bilangan integral yang secara tradisional dinyatakan dalam angka romawi (I,II,III,dst). Mengapa di pakai angka romawi.? karna sejarah di pakainya intensitas gempa ini tidak terlepas dari kejadian-kajadian gempa di Itali. di era-era awal adalah Egen (1828) yang telah mengklasifikasikan akibat kerusakan gempa dilapangan. Kwalifikasi tersebut terus berkembang dan baru menyebar secara luas setelah di kenalkannya 10 skala intensitas gempa oleh Rossi-Forel pada tahun 1883 (RF Scale). Skala ini kemudian di kembagkan lagi oleh Mercalli seorang ahli seismologidan vulkanologi bangsa Itali pada tahun 1902 sampai 12 skala. Intensitas gempa dalam 12 skala kemudian di kembangkan lagi oleh sieberg (1912,1923). Versi berikutnya adalah Mercalli Cancani Sieberg Scale (MCS scale) yang dipakai di eropa selatan tahun 1932. Pada tahun 1931 terbitlah skala gempa versi bahasa inggris oleh wood dan neuman. Skala ini kemudian di kembangkan lagi pada tahun 1956 oleh Richter yang kemudian di sebut Modified Mercalli (MMI). Versi intensitas gempa ini kemudia di sebut Modified Mercalli Inteensity (MMI) sebagaimana di pakai sampai sekarang.

Di beberapa negara, misalnya di Rusia juga berkembang skala intensitas gempa Medvedev-Sponheuer-Karnik (MSK scale) pada tahun 1964. Skala intensitas gempa ini di kembangkan oleh MCs dan MM56 dan di pakai secara luas di Eropa dengan sedikit modifikasi di tahun 1971 dan 1981. Skala ini terus di kembangkan  terus oleh Microseisme Scale (EMS). Skala intensitas yang lain juga dikembangkan di Jepang. Oleh Jepang Meteorological Agency yang kemudian di sebut (JMA scale), intensitas gempa menurut JMA ini hanya mempunyai 7 skala.

Perbandingan Antara Skala-skala Intensitas

 

Banjir Desember 13, 2009

Filed under: Perancangan Keairan — Brian Rizka Hernawan @ 12:00 am

Pengertian banjir secara umum adalah tidak tertampungnya air di wadahnya (alur sungai) sungai meluap menggenangi daerah sekitar nya. Dengan demikian banjir  terjadi apabila volume aliran air melebihi daya tampungnya. Hal ini banyak terjadi karena volume airnya yang sangat banyak dan alurnya yang sempit kemampuan tampungnya. Sedangkan peningkatan volume aliran air dapat diakibatkan karena curah hujan yang sedemikian tinggi dan kemampuan tanah untuk meresapkan air hujan menurun sehingga hampir semua air hujan yang jatuh langsung menjadi aliran yang masuk ke alur sungai. Upaya penanggulangan banjir merupakan kegiatan yang harus dilakukan secara terpadu, meliputi: teknologi mangatur aliran air di alur sungai, meningkatkan kapasitas aliran, serta aturan peraturan dan penataan sistem kelembagaan dalam pengelolaan wilayah sungai.

Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis yang basah (humid tropic) dengan ciri curah hujan yang tinggi pada musim penghujan. Akibatnya dibeberapa tempat dimusim penghujan terjadi bencana banjir yang menimbulakan korban dan kerugian baik nyawa maupun harta benda.

Hampir disetiap musim penghujan sering terjadi peristiwa bencana banjir yang muncul dimana-mana, dengan lokasi dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan secara beragam. Telah banyak upaya yang dilakukan masyarakat maupun pemerintah untuk mengatasi masalah bencana banjir, antara lain pada saat terjadinya bencana (flood fighting) maupun pembangunan prasarana pengendalian banjir (flood control).

Di Jawa Tengah, daerah langgana banjir meliputi kendal, demak, batang, pekalongan dan pemalang mengalami bencana banjir yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Pada saat bencana banjir di batang tanggal 17 februari 2002, curah hujan yang tercatat pada pos hujan sudah mencapai 390 mm/hari. Suatu besaran cursh hujsn yang belum pernah terjadi.

Pada awal bulan februari 2002, di kabupaten Situbondo dan Bondowoso terjadi hujan deras disertai angin kencang hingga malam hari yang kemudian menyebabkan longsor dan banjir yang membawa material longsoran berupa tanah dan batu. Keadaan ini diperparah dengan jebolnya beberapa tanggul dan ambolnya jembatan yang menghubungkan kota situbondo dan bondowoso.

Walaupun bencana banjir terjadi pada musim penghujan, namun hujan bukanlah merupakan penyebab utama terjadinya banjir dan tidak selamanya hujan menimbulkan banjir. Setidak-tidaknya terdapat lima faktor penting penyebab banjir di indonesia antara lain:

  1. Faktor curah hujan
  2. Faktor karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS)
  3. Faktor kemampuan alur sungai mengalirkan air banjir
  4. Faktor perubahan tata guna lahan di DAS
  5. Faktor pengelolaan sungai meliputi tata wilayah

Penyebab Banjir

a. Curah Hujan

Air yang berada dibumi ini jumlahnya relatif tidak berubah karena adanya siklus air yang terkenal dengan daur/siklus hidrologi. Daur hidrologi di awali dengan penguapan air yang berada di bumi. Uap ini dibawa diatas benua-benua oleh massa udara yang bergerak. Bila uap tersebut didinginkan hingga titik embunnya, maka akan menjadi butiran air yang dapat dilihat sebagai awan atau kabut. Dalam kondisi tertentu butiran-butiran kecil itu akan berkembang cukup besar untuk dapat jatuh kepermukaan bumi sebagai hujan.

Sebagian dari hujan tersebut dikembalikan lagi ke udara melalui penguapan dari permukaan air tanah dan tumbuh-tumbuhan serta melalui transpirasi oleh tanaman. Sebagian dari sisa air hujan mengalir diatas permukaan tanah menjadi sungai dan sebagiannya lagi meresap kedalam permukaan tanah. Aliran air baik lewat aliran air di atas permukaan tanah maupun yang mengalir didalam datah akan mengalir lagi kelaut.

b. Karakteristik Daerah Aliran Sungai

Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah dimana air meresap dan / atau mengalir melalui sungai dan anak-anak sungai yang bersangkutan. Karakteristik DAS meliputi luas, bentuk dan kemiringan lereng. Perbandingan antara parameter tersebut menentukan sifat aliran disungai tersebut. Parameter DAS yang satu berlainan dengan parameter DAS yang lainya. Hal ini menyebabkan sifat aliran saling berbeda antara sungai yang satu dengan sungai lainnya.

c. Kemampuan Alur Sungai Mengalirkan Air

Penurunan kemampuan alur sungai mengalirkan volume air merupakan slah satu penyebab terjadinya banjir. Penurunan ini melipui pendangkalah dan penyempitan alur sungai.

  1. Pendangkalan Alur Sungai

Adalah naiknya dasar sungai sehingga mengurangi kemampuan sungai mengalirkan air. pendangkalan sungai dapat disebabkan oleh proses pengendapan (sedimenyasi) terus menerus. Proses sedimentas ini biasanya terjadi dibagian luar hilir sungai akibat kecepatan aliran tidak mampu lagi mengangkut muatan sedimentas hasil erosi dari hulu.

  1. Penyempitan Alur Sungai

Adalah apabila sungai mengalir melalui membelah pemukiman yang padat. Perkembangan penduduk yang sedemikian pesat seta penerapan aturan yang tidak tegas menyebabkan pemukiman penduduk yang dibangun di lereng sungai maupun didaerah bantaran. Hal ini jelas akan mengakibatkan penyempitan aliran sungai.

d. Perubahan Tata guna Lahan di DAS

Perubahan fisik yang terjadi di DAS akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan DAS meresapan air hujan atau dengan kata lain kemampuan DAS menahan air agar tidak menjadi air limasan. Misalnya dari hutan menjadi perumahan, industri, atau pegunungan lain yang mengurangi daya resap tanah akan mengakibatkan berkurangny retensi DAS tersebut terhadap banjir.

e. Tata Pengaturan dan Pengelolaan Sungai

Pelaksanaan pengelolaan banjir yang dilakukan pada saat ini kadang-kadang masih dilakukan secara lokal. Padahal pada sistem eko-hidrolik aliran sungai, penanganan di suatu tempat, banyak pengaruh ditempat lain. Sebagai contoh konsep drainase yang dianut pada saat ini adalah secepat-cepatnya mengalirkan genangan air ketempat yang lebih rendah. Tetapi debit banjir akan lebih besar dan lebih cepat datang di hilirnya.

Upaya Menanggulangi Banjir

Untuk mengatasi masalah banjir dan genangan sampai saat ini masih mengandalkan pada upaya yang bersifat represif dengan melaksanakan berbagai kegiatan fisik/upaya struktur yaitu membangun sarana dan prasarana pengendali banjir dan atau memodifikasi kondisi alamiah sungai sehingga membentuk suatu sistem pengendali banjir (in-stream). Langkah tersebut diterapkan hampir di seluruh negara-negara di dunia yang mengalami masalah banjir.  Sedangkan upaya preventif yang pada dasarnya merupakan kegiatan non-struktur penerapannya masih terbatas. Di beberapa negara upaya struktur telah dikombinasikan dengan upaya nonfisik/nonstruktur (off-stream) sehingga membentuk sistem penanganan yang menyeluruh/komprehensif dan terpadu seperti misalnya di Jepang . Ada juga negara yang mulai meninggalkan upaya struktur dan lebih mengutamakan upaya nonstruktur. Kedua jenis upaya ini berfungsi untuk menekan/memperkecil besarnya masalah banjir (flood damage mitigation) dan tidak dapat menghilangkan/membebaskan masalah secara mutlak.

Berbagai jenis kegiatan fisik/struktur berikut manfaatnya antara lain:

  1. Pembangunan tanggul banjir untuk mencegah meluapnya  air banjir sampai tingkat/besaran banjir tertentu. Dengan dibangun tanggul terbentuk penampang sungai yang tersusun untuk mengalirkan debit banjir rencana
  2. Normalisasi alur sungai, penggalian sudetan, banjir kanal, dan interkoneksi antar sungai untuk merendahkan elevasi muka air banjir sungai. Berbagai kegiatan ini harus direncanakan dengan sangat hati-hati mengingat perubahan apapun yang dilakukan terhadap sungai akan menimbulkan reaksi yang boleh jadi berlawanan dengan yang diingini pengelola
  3. Pembangunan waduk penampung dan atau retensi banjir, banjir kanal dan interkoneksi untuk memperkecil debit banjir; serta
  4. Pembangunan waduk/polder, pompa dan sistem drainase untuk mengurangi luas dan tinggi genangan.
 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.